Feeds:
Pos
Komentar

BAB V – DINAS LANGSIR

LARANGAN LANGSIR DI LUAR BATAS DIPO TANPA PIMPINAN
Di luar batas halaman dipo, masinis tidak diperkenankan memindahkan lokomotipnya tanpa semboyan langsir yang diberikan oleh pegawai dinas operasi yang ditugaskan memimpin urusan langsir.

LARANGAN LANGSIR BAGI JURU MOTOR
Sewaktu langsir, masinis tidak boleh menyerahkan lokomotipnya kepada siapapun yang tidak berhak termasuk kepada juru motor.

Langsir menggunakan lok kecil / sedang (lok dengan tenaga 800 PK ke bawah) diperkenankan tanpa juru motor apabila pandangan dari masinis tidak terhalang.

PERATURAN UMUM TENTANG LANGSIR
Sewaktu langsir, masinis harus memperhatikan :
wesel-wesel yang akan dilalui telah dalam kedudukan yang betul
lidah wesel menutup rapat
sepur bagi rangkaian yang dilangsir maupun bagi bakal pelanting yang mungkin ditolak (stoot) dalam keadaan bebas satu sama lain sejauh dapat dilihat oleh masinis dari lokomotip.
Selanjutnya masinis harus mentaati segala perintah dan semua semboyan yang diberikan dengan jelas dan oleh yang berwenang untuk itu.

Masinis dapat menolak perintah semboyan yang diberikan dalam hal :
jika semboyan yang diberikan menyuruh melakukan gerakan langsir yang terlarang
menurut pendapatnya tidak akan dapat dilaksanakan dengan aman
semboyan langsir tidak jelas
yang memberikan semboyan lebih dari seorang secara bersamaan
Dalam kedua hal yang terakhir ini masinis harus menunggu hingga semboyan diulangi lagi dengan jelas oleh juru langsir yang bersangkutan. Untuk tiap gerakan langsir diperlukan suatu semboyan langsir tersendiri.

Masinis bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh keteledoran sendiri pada waktu langsir.

Waktu malam, semboyan harus diulangi dengan lampu semboyan tangan oleh yang memerintahkan, sedang pada siang hari semboyan itu sedapat mungkin dijelaskan dan dikuatkan dengan semboyan tangan.

Kecepatan langsir maksimum 30 km / jam. Kecepatan tersebut dibawah ini dapat dikurangi sampai sebesar yang diperlukan :
untuk menjamin keselamatan
pada kereta api yang didorong dimana masinis tidak dapat melihat sepur yang akan dilalui
juru langsir tidak dapat dilihat dari lokomotip
kecepatan langsir melalui peron maksimum 5 km / jam dan didahului seorang pegawai yang memperlihatkan bendera merah.
Dilarang melakukan langsiran hanya dengan hanya mempergunakan rantai bahaya atau langsir tanpa jumlah pelayan rem yang cukup.

Pada rangkaian langsir yang panjangnya lebih dari 10 gerbong, maka tergantung dari jumlah gerbong sedikitnya satu gerbong atau lebih harus dilayani remnya. Pada rangkaian yang didorong gerbong yang terjauh dari lokomotip harus dilayani remnya. Pada bagian kereta api yang terdiri hanya gerbong- gerbong pada waktu langsir sedang bergerak sedikitnya satu rem tangan harus dilayani.

Menolak, meluncurkan kereta atau melakukan gerakan langsir sendal-pancing tanpa memandang apakah kereta tergandeng atau tidak dengan gerbong.

Yang diartikan dengan “menolak” atau “langsir sendal-pancing” ialah membagi (splitsen) rangkaian sewaktu berjalan dengan pengertian bahwa dalam hal menolak, lokomotip berada dalam bagian rangkaian yang paling belakang, sedangkan dalam hal langsir sendal pancing, lokomotip berada dalam bagian rangkaian yang muka. Muka dan belakang tergantung dari arah gerakan langsir.

Jika keadaan memaksa dan setelah Kepala Seksi Operasi berunding dengan Kepala Seksi Sarana, sebagian larangan tersebut dapat ditiadakan, dengan ketentuan bahwa penolakan peluncuran dan begitu pula melakukan sendal pancing, dalam keadaan bagaimanapun tetap dilarang untuk :
kereta / gerbong yang dilengkapi dengan peralatan listrik
kereta / gerbong yang dilengkapi dengan rem yang memakai perpindahan roda ulir (wormwiel)
kereta / gerbong yang berisi penumpang atau hewan yang hidup
lokomotip dingin
gerbong yang memakai alat perangkai istimewa misalnya batang penyambung
jika gerakan langsir itu ditujukan ke arah kereta /gerbong yang sedang berhenti dan berisikan penumpang atau bahan peledak
ke arah gerbong yang sedang bongkar, dimuati atau diperbaiki
kereta / gerbong yang berisikan bahan yang mudah meledak
menolak kereta / gerbong di emplasemen yang berbatasan dengan jalan menurun yang dapat menimbulkan bahaya meluncur
melampaui perlintasan jalan terjaga yang tidak ditutup ;
menolak kereta / gerbong ke arah sepur yang dibatasi dengan “stootblok’”, apabila dalam keadaan rusak.
melangsir sendal pancing di sepur utama dan sepur raya dan melangsir sendal pancing kereta.
Dalam langsiran gerbong yang akan ditempati oleh pelayan rem abar harus dalam keadaan baik. Sebelum langsiran bergerak, para pelayan rem yang dibutuh kan harus sudah menempati kereta / gerbong yang akan ditolak (stoot) atau di langsir “sendal pancing”.

Bagian langsir harus selalu diantar, jika bagian itu didorong, melalui lintasan, terdiri dari kereta atau gerbong berisi penumpang atau binatang.

Untuk keamanan langsiran, jika perlu juru langsir harus memberitahukan kepada masinis tentang jalannya langsiran yang akan dikerjakan terutama mengenai langsir “setut” dan “sendal-pancing”.

Jika di lin cabang bagian langsir menabrak dari belakang ” wesel yang bergerak sendiri” dalam kedudukan normal maka bagian langsir itu tidak boleh berjalan kembali sebelum seluruh bagian langsir itu meliwati wesel tersebut, oleh karena gerakan kembali itu dapat mengakibatkan jatuhnya materiel dari rel di wesel itu.

Guna mencegah kecelakaan, maka kereta api yang mengangkut penumpang setelah berhenti hanya boleh bergerak maju atau mundur atas perintah PPKA dan setelah masinis memperdengarkan semboyan 35.

Untuk jalan penumpang, rangkaian kereta api yang sedang berhenti di stasiun dapat dipisahkan menjadi dua bagian. Jarak antara kedua bagian itu sedikitnya 20 meter. Kedua bagian kereta api tersebut hanya boleh digandeng lagi atas perintah PPKA. Sewaktu langsir menggandengkan kedua bagian yang terpisah itu bagian yang bergerak harus didahului seorang pegawai yang memperlihatkan bendera merah.

Gerakan langsir di stasiun ke arah sinyal masuk dibatasi dengan tiang batas langsiran sejauh 50 meter dibelakang sinyal masuk. Pada tiang batas langsir dipasang papan dengan tulisan “Batas langsiran”.

Di stasiun pada lintas sepur tunggal yang memakai sistim blok atau tidak, langsir ke luar batas langsiran hanya dilakukan dalam keadaan yang memaksa. Untuk itu PPKA menuliskan perintah dalam LHM yang bersangkutan dengan keterangan ke arah petak jalan mana batas langsiran boleh dilalui langsiran.

Perintah tertulis untuk langsir ke luar batas langsir itu berarti bahwa langsiran diperkenankan juga untuk melalui sinyal masuk pada jarak paling jauh 200 meter. Untuk kembalinya langsiran ke emplasemen tidak perlu dipergunakan perintas MS.

Langsir meliwati sinyal masuk dilarang pada petak jalan yang kurang dari 2 km panjangnya.

Di sepur kembar, langsiran pada sepur berangkat boleh melalui sinyal masuk sejauh 200 meter.

Sewaktu langsir di sepur masuk di lintas sepur kembar yang melalui batas langsiran berlaku peraturan seperti pada sepur tunggal.

Sewaktu perhubungan kawat terganggu dan pada waktu jalan kereta api terhalang, dilarang langsir ke luar batas langsiran.

Setelah langsiran selesai materiel harus ditempatkan dalam preipal dan abarnya diikat.

Perlintasan yang berpintu yang akan dilalui langsiran harus di tutup pintunya.

Di lintasan sepur simpang yang tidak dijaga, pada waktu dilalui langsiran harus diperlihatkan semboyan 3 untuk memberhentikan lalu lintas jalan raya.

Langsir di sepur simpang di jalan bebas harus dilakukan dibawah pimpinan dan tanggung jawab KP. Melepas dan menggandeng gerbong oleh pelayan rem hanya boleh dilakukan atas perintah yang tegas dari KP yang diberikan pada waktu itu juga.

Perintah melepas atau menggandeng gerobak sebelum kereta api berhenti di sepur simpang tidak boleh dilakukan. Pelayanan alat pengaman sepur simpang harus dilakukan oleh KP sendiri,

Jika kereta api berhenti di stasiun yang terletak ditanjakan atau di dekat tanjakan maka gerbong yang tergandeng di belakang hanya boleh dilepas dari rangkaian setelah diterima perintah dari PPKA.

Melepas gerbong tersebut hanya boleh dilakukan, jika langsiran dibagian muka telah selesai dan gerobak yang akan dilepas itu telah direm atau telah diganjal dengan stopblok kayu. .

Tanjakan di stasiun yang lebih dari 2,5 per mil hanya boleh di pergunakan untuk meluncurkan materiel, jika tanjakan itu bersambungan dengan tanah datar di emplasemen dengan panjang sedikitnya 300 meter atau jika tidak ada kemungkinan gerbong yang diluncurkan itu akan menggelundung keluar batas stasiun.

Pada waktu meluncurkan materiel di tempat itu harus diperhatikan peraturan dilarang menyetut, 25% jumlah gandar kereta / gerbong yang diluncurkan harus dapat direm.

“Maju” dalam langsiran selalu berarti jurusan kemana langsiran bergerak dengan lokomotip berjalan maju, tidak perduli apakah lokomotip berada di akhiran langsiran atau di antara kereta / gerbong.

“Mundur” adalah kebalikannya dari gerakan maju.

Setelah jam 18.00 dan sebelum jam 06.00, pada lokomotip langsir harus dinyalakan satu lampu di muka dan satu lampu di belakang akan tanda “dinas langsir”.

TUGAS JURU MOTOR PADA WAKTU LANGSIR
Sewaktu langsir juru motor harus melayani rem tangan lokomotip sesuai sernboyan yang diberikan oleh juru langsir, kecuali bila masinis sewaktu langsir mempergunakan rem otomatis.

Selama lokomotip berjalan harus melakukan pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh masinis, senantiasa berjaga-jaga dan tidak diperkenankan melakukan pekerjaan lain. Juru motor wajib memberitahukan kepada masinis, jika mengetahui keadaan yang dapat mempengaruhi jalannya langsiran.

PEMAKAIAN KLAKSON DALAM DINAS LANGSIR
Sewaktu langsir klakson dibunyikan oleh masinis hanya untuk memberikan semboyan yang sangat perlu saja dengan pendek dan jelas. Mengulangi semboyan langsir dengan klakson pada waktu langsir dengan rangkaian pendek tidak perlu dilakukan.

Pada waktu langsir dengan rangkaian yang panjang serta di emplasemen yang mempunyai pandangan kurang luas, bila dianggap perlu masinis dapat mengulangi semboyan langsir dengan klakson.

Jika dalam rangkaian yang dilangsir itu terdapat kereta / gerbong berisi penumpang, maka masinis harus selalu mengulangi semboyan langsir dengan klakson.

Semboyan untuk memperingatkan penjaga jalan lintasan (yang diberikan pada waktu hendak langsir melalui lintasan yang dijaga), oleh masinis selalu diulangi dengan klakson.

Sewaktu langsir melalui daerah yang ramai (misalnya dekat pasar atau dekat jalan raya) maka masinis wajib sering kali memberikan semboyan “minta perhatian” dengan klakson (kecepatan dibatasi maksimum 5 km / jam dan jika perlu didahului oleh seorang pegawai yang mengibarkan bendera merah).

GERAKAN LANGSIR MAJEMUK DAN LANGSIR SENDAL PANCING
Masinis dilarang melakukan gerakan-gerakan langsir majemuk sebelum :
mengetahui dengan jelas jenis dan besarnya (omvang) dari gerakan-gerakan itu
yakin bahwa penjaga wesel dan pelayan rem yang telah ditentukan untuk bagian rangkaian yang akan di sendal-pancing, semuanya telah ada di tempatnya
Sejauh hal ini dapat dilakukan dari lokomotip, langsiran dapat dilakukan tanpa menimbulkan bahaya.

LARANGAN MENGEREM SEWAKTU MELALUI WESEL INGGRIS
Sewaktu langsir melalui sepur lempeng pada suatu wesel Inggeris, maka guna mencegah kemungkinan roda materiel ke luar dari rel, lokomotip atau kereta / gerbong selama masih berjalan diatasnya wesel Inggeris itu, dilarang direm.

MENCATAT JUMLAH WAKTU DINAS LANGSIR DALAM LHM
Setelah dinas langsir selesai, masinis melaporkan diri kepada KS dengan membawa LHM untuk diisi lamanya dinas langsir yang telah dilakukan dan diparap oleh KS tersebut.

KERETA API BERHENTI ATAU LANGSUNG DI STASIUN
Sewaktu mendekati atau melihat stasiun, masinis dan juru motor harus memperhatikan semboyan dan kedudukan wesel. Jika ternyata kedudukan wesel salah, atau sepur yang akan dimasuki kereta api tidak bebas, masinis harus berusaha untuk berhenti pada waktunya dengan memberikan semboyan “bahaya”.

Pada stasiun dimana kereta api seharusnya tidak berhenti, masinis tidak boleh berjalan langsung jika menurut tabel kereta api atau Iaporan harian masinis bahwa di stasiun itu harus bersilang dengan kereta api lain dan sewaktu melalui stasiun itu tidak yakin bahwa kereta api lawan silang sudah masuk.

Masinis harus berusaha memberhentikan kereta apinya hingga knalpot lokomotip berada diluar atap peron dan rangkaian berada di muka peron. Masinis harus memperhatikan agar ujung muka kereta api tidak melampaui batas sepur kereta api. Sewaktu kereta api yang tidak mempergunakan rem otoma tis berhenti, juru motor harus melayani rem tangan Iokomotip. Kecuali atas perintah yang telah diberikan atau karena keadaan luar biasa bahwa kereta api tidak boleh berhenti ditempat lain dari pada yang telah ditetapkan dalam peraturan perjalanan.

Masinis harus memadamkan lampu lokomotip (S20) jika :
di sepur dobel berjumpa dengan kereta api lain.
berhenti di stasiun dan ada kereta api lain (searah / berlawanan) akan berjalan langsung di stasiun itu.
Jika kereta api langsung di stasiun harus diberhentikan di stasiun itu, maka diambil tindakan sbb:
diperlihatkan semboyan 3 dimana lokoinotip harus berhenti, kecuali jika telah terlihat semboyan 7.
diperlihatkan semboyan 2 B di wesel terjauh akan dilalui kereta api dari arah ujungnya
mempertahankan sinyal masuk dalam kedudukan “tidak aman’”.
Setelah PPKA mendengar semboyan “minta perhatian” (semboyan 35) yang dibunyikan oleh masinis bahwa kereta api telah berhenti di muka sinyal masuk, maka PPKA boleh menarik “aman” sinyal masuk itu. Kereta api berjalan masuk emplasemen dan berhenti di tempat semboyan 3 atau semboyan 7. Untuk kereta api yang akan masuk stasiun dengan melalui tanjakan lebih dari 8 per mil maka sinyal masuk tidak perlu dipertahankan dalam kedudukan “tidak aman” akan tetapi semboyan 2 B dan semboyan 3 harus tetap diperlihatkan.

Jika masinis telah diberitahukan dengan lisan dan dalam LHM telah dicatat oleh PPKA stasiun sebelumnya tentang pemberhentian luar biasa itu, maka tindakan yang tersebut di atas tidak perlu dilakukan.

Kereta api yang masuk dan berhenti, terbatas hingga penghabisan sepur kereta api. Sebagai tanda penghabisan sepur kereta api dipergunakan salah satu dari semboyan, yaitu semboyan 7, semboyan 3, preipal antara dua sepur kereta-api, bantalan putih, tumpuan, pelalau, stopblok atau alat-alat lain semacamnya.

Kereta api langsung harus melalui sepur lempeng, kecuali jika keadaan tidak mengizinkan. Jika suatu saat peraturan melalui sepur lempeng tidak dapat dilakukan (umpama karena sesuatu hal sepur lempeng yang akan dilalui kereta api itu terhalang atau rusak) maka kereta api harus dimasukkan di sepur belok sebagaimana memberhentikan kereta api langsung.

Waktu malam hari dilarang keras menyimpang dari pada peraturan tersebut diatas, sedangkan waktu siang hari kereta api boleh berjalan langsung tetapi pada wesel keluar di sepur belok itu harus diperlihatkan semboyan 2B.

Jika kereta api langsung harus dimasukkan di sepur buntu di stasiun yang bukan setasiun buntu, maka kereta api itu harus dimasukkan seperti cara memberhentikan kereta api langsung. Semboyan 3 harus diperlihatkan sedikitnya 50 meter dari batas sepur buntu. Jika akan masuk stasiun dengan melalui tanjakan lebih dari 8 per mil sinyal masuk harus tetap dipertahankan dalam kedudukan “tidak aman” terlebih dahulu.

Jika kereta api biasanya berhenti masuk sepur lempeng tetapi akan dimasukkan disepur lain (bukan sepur buntu atau bukan sepur isi ), sedang sinyal masuk tidak mempunyai penunjuk batas kecepatan atau di wesel yang akan dilalui tidak ada papan pembatasan kecepatan 30 km, maka di wesel itu harus diperlihatkan semboyan 2B.

Jika kereta api biasanya berhenti tidak masuk sepur buntu kemudian akan dimasukkan disepur buntu di stasiun bukan stasiun buntu, maka kereta api itu harus diberhentikan terlebih dulu di muka sinyal masuk (walaupun kereta api itu akan masuk stasiun dengan melalui tanjakan lebih dari 8 per mil). Di wesel terjauh arah kedatangan kereta api diperlihatkan semboyan 2B dan sedikitirya 50 meter dari penghabisan sepur buntu dipasang semboyan 3.

MEMASUKKAN KERETA API DI SEPUR ISI
Menyimpang dari peraturan, kereta api terpaksa harus dimasukkan di sepur isi di suatu stasiun, maka stasiun itu harus dibagi dalam 3 zone, ialah zone a, b dan c.

Zone a adalah 100 meter meliwati preipal permulaan tiap sepur kereta api yang akan dilalui sampai 100 meter meliwati preipal penghabisan sepur kereta api
Zone b dari tiang batas langsiran hingga permulaan zone a
Zone c dari sinyal masuk hingga permulaan zone b

Jika kereta api akan dimasukkan di sepur isi zone a, maka kereta api itu harus dimasukkan sebagaimana memberhentikan kereta api langsung walaupun kereta api itu akan masuk stasiun dengan melalui tanjakan lebih dari 8 per mil. Sedikitnya 50 meter dari bagian sepur yang isi harus diperlihat kan semboyan 3.

Jika kereta api akan dimasukkan di sepur isi zone b, maka kereta api itu harus diberhentilkan terlebih dulu dimuka sinyal masuk. Setelah sinyal ditarik aman kereta api boleh masuk dengan kecepatan 5 km/jam atau kecepatan orang berjalan kaki dan didahului seorang pegawai yang berjalan membawa semboyan 3 sampai di tempat yang ditentukan.

Jika kereta api akan dimasukkan di sepur isi zone c, maka pada jarak sedikitnya 500 meter (di lin cabang 300 meter) dari bagian sepur yang isi harus diperlihatkan semboyan 3 oleh seorang pegawai. Semboyan 3 itu harus terlihat oleh masinis pada jarak 500 meter (di lin cabang 300 meter). Setelah kereta api berhenti di muka semboyan 3 itu, kemudian boleh berjaIan dengan didahului pegawai yang berjalan membawa semboyan 3 sampai dimuka sinyal masuk yang berkedudukan “tidak aman”. Kemudian harus dilakukan tindakan menurut keadaan antara lain masinis menunggu perintah dari PPKA.

KECEPATAN KERETA API MASUK
Wesel yang diarahkan ke sepur belok tidak boleh dilalui dengan kecepatan lebih dari 30 km sejam.

Sewaktu masuk emplasemen kecepatan kereta api harus diatur agar yakin dapat diberhentikan di tempat yang sudah ditentukan

Jika sinyal masuk memperliihabkan tanda pengurangan kecepatan maka kereta api harus mengurangi kecepatannya hingga 30 km/jam mulai dari wesel pertama yang dilalui.

Jika sinyal masuk tidak dapat memperlihatkan tanda pengurangan kecepatan dan di emplasemen tidak terlihat papan pengurangan kecepatan maka kereta api yang masuk mulai wesel pertama yang akan dilalui hanya di perbolehkan berjalan setinggi-tingginya 30 km/jam.

Khusus untuk lin cabang :
JIka kereta api telah mendekati stasiun yang tidak dilindungi sinyal masuk, maka masinis harus mengurangi kecepatan, agar dapat memberhentikan kereta apinya di muka wesel pertama yang akan dilalui.

TINDAKAN SELAMA KERETA API BERHENTI DI STASUN ANTARA
Selama berhenti di stasiun antara, masinis dan juru motor harus memeriksa lokomotip sedapat mungkin dan berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan selanjutnya dalam waktu berhenti di tempat itu.

Pemeriksaan teliti terhadap peralatan bagian bawah rangka dasar yang bila rusak / lepas / tidak memenuhi persyaratan dapat membahayakan perjalanan kereta api dan terhadap alat perangkai. Persediaan bahan bakar dan minyak pelumas diperiksa agar dapat diketahui bila ada kebocoran.

Jika kereta api telah berhenti di muka atau melampaui tempat yang semestinya sehingga kereta api tersebut harus dipindahkan kembali maka masinis boleh menggerakkan kembali kereta apinya setelah menerima semboyan dari KP dan sedapat mungkin meyakinkan bahwa dapat dilakukan tanpa bahaya. Akan tetapi masinis tidak dibolehkan menggerakkan kereta apinya sebelum mengulangi perintah KP tersebut dengan klakson lokomotip.

Jika harus mengambil bahan bakar atau melakukan percobaan dan lokomotip yang sudah dilepas masih harus sedikit maju maka masinis boleh menggerakkan lokomotip tanpa menunggu perintah dari juru langsir kecuali jika lokomotip itu harus melampaui patok batas ruang bebas. Gerakan langsir tersebut tidak boleh dilakukan tanpa pimpinan.

Jika harus melakukan pengambilan bahan bakar di stasiun antara yang dalam keadaan biasa tidak dilakukan maka masinis harus memberitahukannya kepada KP dan dicatat dalam LHM.

Jika dalam perjalanan masinis mengetahui kejadian yang luar biasa, harus memberitahukan kepada KP dan mencatatnya dalam LHM.

Masinis tidak diperkenankan berangkat sebelum LHM yang diminta oleh KS telah diterima kembali dan diperiksa dengan teliti.

PENGAMBILAN BAHAN BAKAR DAN MINYAK PELUMAS
Sewaktu mengambil bahan bakar maka masinis harus yakin bahwa jumlah bahan bakar yang tertulis dalam bon permintaan telah benar dan sesuai dengan yang diterimanya.

Mengisi bahan bakar tidak boleh melampaui batas yang akan menimbulkan tumpah dalam perjalanan.

Pengisian bahan bakar dan minyak pelumas di luar dipo induk harus selalu disertai bon permintaan yang dibawa oleh masinis untuk diserahkan kepada pengawas luar dipo induknya untuk jumlah pemakaiannya.

DINAS SESUDAH PERJALANAN BERAKHIR
Jika lokomotip setelah mengakhiri perjalanan untuk beberapa waktu tidak akan diperguakan lagi maka lokomotip diantar oleh juru langsir ke tempat dimana persediaan bahan bakar dapat ditambah atau diantar ke dipo untuk diperiksa dan disiapkan untuk perjalanan berikutnya.

Jika kereta api datang dengan traksi ganda dan kedua lokomotip harus dilangsir maka lokomotip tersebut harus tetap tergandeng sampai gerakan langsiran dilakukan oleh kedua lokomotip itu selesai dikerjakan.

Setelah lokomotip disiapkan kembali untuk perjalanan berikutnya maka lokomotip tersebut disetel dalam keadaan “istirahat”. Jika waktu mengizinkan dan setelah mendapat idzin dari KDT / KS atau wakilnya, masinis dan juru motor diperkenankan meninggalkan emplasernen secara bergiliran dengan ketentuan harus kembali tepat pada waktunya untuk perjalanan benikutnya. Masinis atau juru motor harus tetap tinggal di dalam / samping lokomotipnya.

Jika pegawai lokomotip sementara waktu hendak meninggalkan emplasemen harus memberitahukan tempat tujuan kepada pejabat yang memberi idzin, dimana dapat dipanggil bila dengan mendadak ada perintah harus menjalankan dinas sebelum waktu yang seharusnya.

Pada lokomotip diesel penyetelan dalam keadaan “istirahat” dikerjakan sbb :
Gagang tenaga ditarik pada kedudukan “idle atau 0″
Transmisi ditambah pada kedudukan “kosong”
Abar lokomotip diikat.
Jika diperkirakan waktu istirahat akan melebihi lima menit, maka mesin diesel dapat dimatikan dan abar lokomotip diikat.

AKHIR DINAS
Jika pada akhir suatu perjalanan atau dinas siang dari lokomotip berakhir maka pegawai lokomotip yang bersangkutan tidak diperkenankan meninggalkan lokomotipnya sebelum pekerjaan dibawah ini dilakukan :
mesin diesel dimatikan;
peralatan bantu di dalam lok dimatikan;
saklar utama baterai dilepas;
kran angin ditaruh pada kedudukan yang sesuai untuk lok yang mati;
pembalik arah ditaruh pada kedudukat tengah;
kran HSD ditutup ;
abar diikat ;
ruang masinis dikunci dan tidak upa membawa LHM dan laporan tehnik yang telah diisinya;
transmisi ditaruh dalam kedudukan tidak bertenaga dan tidak terisi;
lampu-lampu dimatikan.
Jika lokomotip sudah dimatikan sebagaimana mestinya maka lokomotip diserahkan kepada pengawas dinas check. Selanjutnya masinis dan juru motor melihat di ikhtisar dinas untuk esok harinya dan pengumuman bagi pegawai yang ditempelkan pada papan pengumuman di dalam dipo.

Setelah mereka menaruh laporan hariannya di dalam kotak atau tempat yang telah ditentukan dan melaporkan kejadian luar biasa yang diketahui selama menjalankan dinas, mereka dibolehkan pulang dengan seidzin KDT atau wakilnya.

Masinis yang menjalankan lokomotip dengan alat penerangan elektrik setelah selesai dinasnya (dinas malam hari) harus mencatat dalam LHM, apakah lampu-lampu di waktu jalan menyala dengan cukup terang.

DINAS CADANGAN
Selama lokomotip dalam dinas cadangan, masinis dan juru motor harus selalu ada di dekat lokomotipnya.

Lokomotip dalam dinas cadangan harus selalu siap untuk dipergunakan dengan persediaan secukupnya, sehingga lokomotip dapat segera berangkat.

Setelah dinas cadangan, masinis harus melaporkan diri dengan membawa LHM kepada KS untuk diisi jumlah jam dan mernit selama menjalankan dinas cadangan.

Dinas cadangan hanya boleh dilakukan di stasiun yang menurut peraturan harus selalu ada lokomotip cadangan dan untuk itu hanya boleh menggunakan satu lokomotip. Selama lokomotip cadangan untuk sementara waktu dipergunakan untuk langsir, maka di stasiun itu baik lok tersebut maupun lok lainnya tidak boleh dianggap sebagai dinas cadangan akan tetapi harus dianggap sebagai lokomotip dinas langsir.

Akan tetapi selama suatu lokomotip memberikan tenaga untuk lain-lain (misalnya langsir di dipo), lokomotip itu selalu di anggap sebagai lokomotip dinas cadangan dengan tidak memandang apakah pada stasiun itu harus ada lokomotip dinas cadangan atau tidak.

MENEMPATKAN LOKOMOTIP DI MUKA KERETA API
Lokomotip harus dirangkaikan selambat-lambatnya 10 menit sebelum jam keberangkatan kereta api. Jika kereta api menggunakan traksi ganda maka kedua lokomotip yang akan dirangkai pada rangkaian harus terangkai satu sama lain atau setelah lokomotip yang satu telah terangkai pada rangkaian kemudian lokomotip yang lain boleh digandengkan. Dilarang melakukan langsiran pada dua lokomotip yang tidak terangkai satu lama lain secara bersamaan menuju ke rangkaian.

Merangkai lokomotip dengan rangkaian dilakukan oleh Pelayan Rem (PLRM) atau Pelayan Kereta Api (PLKA) dibawah pengawasan masinis. Jika tidak terdapat PLKA, maka selang udara tekan disambungkan oleh juru motor dan diawasi masinis. Kemudian peralatan hendel pelayanan udara tekan digerakkan oleh masinis.

Masinis menyuruh juru motor membawa Laporan Harian Masinis (LHM / model T 83) kepada Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) untuk diberi catatan dan ditandatangani seperlunya. LHM yang telah diberi catatan oleh PPKA harus segera diperiksa oleh masinis sendiri agar jika terdapat hal yang kurang jelas masih dapat minta penjelasan kepada PPKA atau jika terdapat kekeliruan / kekurangan masih da pat dibetulkan / ditambahkan. Untuk mendapatkan penjelasan / pembetulan, masinis harus datang sendiri kepada PPKA.

Masinis bertanggungjawab atas ketepatan pemberian semboyan yang harus dipasang pada lokomotipnya. Pemasangan semboyan pada kereta / gerbong masinis menyerahkan semboyan kepada pegawai kereta api dalam keadaan baik.

Jika pemasangan semboyan pada lokomotip tidak dapat dilakukan dengan peralatan yang dapat dilayani dari tempat masinis, maka kereta api yang seharusnya berjalan langsung harus diberhentikan di stasiun permulaan atau berakhirnya pemasangan semboyan.

Atas permintaan masinis, Kepada Stasiun (KS) harus memberitahukan berat kereta api. Jika berat kereta api tidak melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan, maka dalam keadaan biasa masinis diwajibkan mengangkutnya. Masinis boleh menolak pengangkutan tersebut, jika cuaca atau lokomotip kurang baik hingga tidak mungkin untuk mengangkut berat kereta api sepenuhnya dan harus meminta kepada KS agar mengurangi berat kereta api. Hal tersebut dicatat oleh masinis dalam LHM serta dijelaskan sebab permintaan pengurangan itu.

Masinis berhak melihat isi Laporan Kereta Api (LAPKA / model 84) yang ditariknya.

Setelah LHM dalam keadaan baik, masinis bersiap untuk berangkat dan jika masih tersedia waktu harus memeriksa lokomotip dengan perhatian khusus mengenai peralatan yang berada dibawah rangka dasar atau peralatan yang apabila terlepas dapat membahayakan perjalanan kereta api.

Di stasiun permulaan dan di stasiun antara tempat menambah / melepas kereta / gerbong atau di stasiun dimana ada kesempatan maka PPKA beserta Kondektur Pemimpin (KP) harus memeriksa kereta api yang dipimpinnya.

Jika KP melihat cacat pada rangkaian yang diperiksa maka harus segera memberitahukan kepada PPKA dan masinis. Masinis harus memutuskan apakah cacat itu membahayakan atau tidak. PPKA harus bertindak sebagaimana mestinya.

PPKA stasiun permulaan atau stasiun tempat penggantian pegawai kereta api diwajibkan memeriksa bahwa arloji masinis dan arloji KP cocok dengan jam stasiun.

LAPORAN HARIAN MASINIS
PPKA stasiun permulaan dan stasiun penggantian masinis harus mengisi kolom tertentu dalam LHM masinis dengan catatan :
persilangan luar biasa dan di lin cabang juga penyusulan luar biasa
semboyan 22, 24, 26, 27 dan 28 yang harus dipa sang di lokomotip
semua peristiwa yang harus diperhatikan oleh masinis sepanjang perjalanan
pembatalan / pengumuman perjalanan kereta-api
persilangan / penyusulan dengan lori
berjalan perlahan-lahan karena semboyan
berhenti luar biasa di stasiun atau di tempat perhentian yang menurut peraturan perjalanan kereta api harus langsung.
Catatan tersebut hanya ditulis pada lintas yang akan dilalui oleh masinis itu.

Jika tidak terdapat catatan-catatan sebagaimana di atas maka PPKA stasiun permulaan atau stasiun penggantian masinis menuliskan kata “TIADA” di masing-masing kolom yang disediakan dalam LHM dan diparaf.

Jika kereta api berjalan dengan traksi ganda, maka catatan tersebut hanya ditulis dalam LHM lokomotip yang di depan. Jika masinis lokomotip lainnya minta keterangan tentang catatan tersebut, dapatlah kepadanya diberikan dengan lisan.

Sewaktu kereta api di dorong atau berjalan dengan traksi ganda dengan satu lokomotip di belakang rangkaian maka pemasangan semboyan 23 dan 25 harus dicatat dalam LHM lokomotip yang di belakang rangkaian, karena lokomotip tersebut dipandang sebagai akhir rangkaian.

Jika masinis selama dinas menerima pemberitahuan luar biasa mengenai dinas kereta api atau dinas lokomotip atau perintah yang menyimpang dari perintah-perintah yang telah diberikan (misalnya rusak atau dipindahkan, perjalanan lori dll), maka masinis (jika penting dan tidak diberitahukan secara tertulis) harus meminta ketetapan tertulis pada LHM.

Semua catatan, perubahan dan tambahan harus dibubuhi paraf PPKA. Nama stasiun dalam LHM tidak boleh disingkat.

Di stasiun pemeriksa, jika kereta api menurut peraturan perjalanan berhenti di stasiun itu lebih dari satu menit, masinis sendiri atau dengan perantaraan juru motor, segera membawa LHM kepada PPKA untuk diberi catatan yang perlu diketahuinya.

Jika masinis ditengah perjalanan kehilangan LHM, maka harus menghubungi PPKA stasiun pertama-tama yang akan dicapai. Untuk ke perluan tersebut maka kereta api langsung boleh berhenti luar biasa di stasiun.

Atas permintaan masinis dibuatkan salinan catatan tentang perjalanan kereta api yang dikutip dari LAPKA untuk lintas yang masih harus dijalani oleh masinis itu. Salinan tersebut harus ditandatangani oleh PPKA yang membuat dan berlaku sebagai pengganti bentuk yang hilang.

Sewaktu kereta api berjalan dengan traksi ganda peraturan tersebut hanya berlaku untuk masinis lokomotip yang di depan.

TABEL KERETA API
Masinis kereta api biasa, kereta api fakultatif atau kereta api luar biasa harus mempunyai tabel kereta api, kecuali masinis lokomotip pendorong yang berjalan kembali dan masinis lokomotip yang mengambil sebagian rangkaian yang ditinggalkan di jalan bebas. Tabel kereta api dibuat pada model T100 dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Sarana dengan dibubuhi tanggal.

Tabel kereta api harus memuat :
Nomor kereta api atau nomor perjalanan kereta api luar biasa.
Jam berangkat, jam datang atau jam langsung di stasiun (nama stasiun / tempat simpangan / tempat perhentian / seinpos / blokpos harus ditulis lengkap).
Perhentian (jika perlu), langsung atau berhenti pada hari tertentu.
Persilangan biasa, ditandai dengan tanda X.
Stasiun dimana masinis tidak bertanggungjawab atas pengawasan persilangan ditulis dalam kotak segi panjang
Stasiun pemeriksa diberi tanda garis bawah tipis seperti yang terlihat dalam grafik.
Jika di stasiun pemeriksa, kereta api berhenti lebih dari satu menit maka masinis harus minta pemeriksaan dan paraf atas LHM.
Kereta api masuk di sepur buntu di stasiun bukan setasiun buntu harus diberi tanda X.
Waktu tempuh perjalanan biasa dan waktu tempuh perjalanan tercepat antar stasiun.
Puncak kecepatan kereta-api yang diizinkan.
Letak stasiun dituliskan dalam kilometer dan hektometer dengan pembulatan.
Di lin cabang penyusulan biasa, ditandai dengan atau = ; tanda // untuk kereta api yang menyusul dan tanda = untuk kereta api yang disusul.
Jika seorang Masinis harus menjalankan kereta api akan tetapi belum mempunyai tabel kereta api, maka sebelum berangkat harus diberikan tabel kereta api masinis lokomotip yang diganti oleh lokomotipnya atau tabel kereta api model T 100 yang dibuat dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Sarana atau tabel kereta api model T 100 yang dibuat dan ditandatangani oleh PPKA.

Jika masinis berjalan atas dasar model T 100 yang buat oleh PPKA, maka pada waktu masuk stasiun bukan setasiun buntu yang mempunyai sepur buntu maka masinis harus bersiap-siap karena kemungkian kereta apinya diterima disepur buntu. Hal tersebut tidak dapat diketahui terlebih dulu, karena dalam model T 100 yang dibuat oleh PPKA tidak diberi tanda X.

MEMBERANGKATKAN KERETA API
Setelah masinis mendengar perintah berangkat yang diberikan oleh KP (semboyan 41) dengan menghadap kejurusan lokomotip dan jika masinis telah yakin melihat tanda perintah berangkat yang diperlihatkan oleh PPKA / PAP (semboyan 40) kepada KP, maka masinis wajib :
meyakinkan bahwa semboyan yang diberikan benar berlaku untuk kereta apinya
wesel-wesel keluar telah betul kedudukannya
(jika ada) sinyal perangkaian wesel
sinyal keluar menunjukkan bahwa wesel-wesel yang akan dilalui telah tersekat
sepur yang akan dilalui tidak terhalang.
Masinis membunyikan semboyan “minta perhatian” (semboyan 35) dengan klakson lokomotip dan mulai menggerakkan lokomotipnya secara hati-hati tanpa sentakan.

Perintah berangkat untuk kereta api listrik oleh KP dengan menarik suling angin setelah naik ke dalam kereta.

Sewaktu kereta api meninggalkan emplasemen dan lokomotip telah melalui wesel terakhir, masinis harus melihat ke belakang untuk meyakinkan apakah kereta api yang ditariknya itu dalam keadaan baik dan lengkap dengan semboyan akhiran (semboyan 21). Jika kedapatan semboyan akhiran tidak ada maka masinis harus menghentikan kereta apinya karena semboyan akhiran belum dipasang atau kemungkinan sebagian rangkaian ketinggalan.

Jika pada waktu diberikan perintah berangkat oleh KP, masinis masih belum yakin bahwa semua kereta api yang menurut tabel kereta api atau LHM harus bersilang dengan kereta apinya, benar-benar telah masuk semua maka masinis hanya boleh mentaati perintah itu setelah keyakinan tersebut telah diperolehnya.

Jika masinis melihat kereta api yang harus bersilang dengan kereta apinya masuk emplasemen, maka masinis harus meyakinkan bahwa kereta api yang sedang masuk tidak memasang semboyan adanya rintang jalan (semboyan 31) dan lengkap membawa semboyan akhiran (semboyan 21).

Kereta api penumpang tidak boleh diberangkatkan sebelum waktu yang ditetapkan.

Kereta api barang oleh Kepala Daerah Operasi boleh dimajukan waktu pemberangkatannya dan ditetapkan dalam PTDL. Memajukan keberangkatan dimaksud tidak boleh dilakukan jika pada petak jalan yang akan dilalui itu ada lori yang berjalan kecuali jika pengantar lori telah me ngetahui hal itu.

Kereta api yang sedang berangkat dari stasiun kemudian karena sesuatu hal terpaksa harus berhenti lagi, tidak boleh melanjutkan perjalanannya sebelum diberi perintah berangkat lagi oleh PPKA.

Khusus lin cabang, kereta api boleh berangkat dari stasiun atau tempat simpangan 5 menit setelah kereta api dimukanya yang berjalan searah (kecepatan sama atau lebih tinggi) berangkat dari stasiun atau tempat simpangan itu. Jarak antara dua kereta api yang berjalan berurutan tersebut diatas sedapat mungkin tidak boleh kurang dari 300 meter.

PEMBAGIAN TUGAS MASINIS DAN JURU MOTOR DALAM PERJALANAN
Selama perjalanan masinis harus memperhatikan keadaan jalan dan semboyan sekaligus mengawasi pekerjaan juru motor yang berada dibawah perintahnya untuk membantu disamping tugasnya untuk melakukan pemeriksaan di kamar mesin.

Masinis harus yakin perintahnya dijalankan oleh juru motor dan juru motor setiap setengah jam harus melakukan pemeriksaan pada :
alat ukur arus listrik
suhu air dan minyak pelumas
kedudukan dan aliran minyak pelumas
minyak bakar serta air pendingin
suhu beberapa periuk gandar tertentu
lain-lain peralatan baik dalam ruang masinis maupun kamar mesin dan melapor kan segala keadaan yang mencurigakan kepada masinis.
Juru motor harus mentaati perintah ini dan menganggapnya sebagai kewajibannya sehari-hari.

Pekerjaan juru motor tersebut tidak mengurangi kewa jiban seorang juru motor untuk memperhatikan semboyan yang menjadi kewajiban masinis. Pada waktu mendekati suatu semboyan, masinis dan juru motor harus bersama-sama meyakinkan kedudukan semboyan. Jika juru motor lalai kewajibannya maka masinis harus memperingatkan kewajiban tersebut. Masinis bertanggungjawab atas segala kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya yang seharusnya dapat dihindarkan jika dilakukan pengawasan yang baik.

Jika masinis dalam perjalanan terpaksa harus meninggalkan tempat hendel pelayanan untuk memperbaiki sesuatu cacat dalam kabin atau dalam kamar mesin, maka juru motor harus mengambil alih handel pelayanan dan memperhatikan keadaan jalan dan semboyan.

Juru motor wajib memberitahukan masinis jika melihat keadaan yang dapat mempengaruhi perjalanan kereta api.

Pada kereta api yang tidak memakai rem otomatis (pakem / udara tekan ) juru motor harus melayani rem tangan lokomotip.

Selama perjalanan masinis dilarang bercakap-cakap dengan juru motor / orang lain orang selain mengenai dinasannya.

Setiap meliwati stasiun masinis harus memeriksa tabel kereta api (meskipun telah hafal) dan LHM apakah di stasiun berikutnya berjalan langsung / berhenti berhenti luar biasa.

Masinis dan juru motor diwajibkan sesekali menengok ke belakang untuk melihat kemungkinan diperlihatkan tanda bahaya oleh pegawai kereta api atau untuk melihat kereta api putus atau tidak.

Jika di lokomotip terdapat seorang pengawas runner untuk mengawasi kerja motor diesel serta peralatannya, maka masinis harus memberikan laporan tehnik model T 200 kepada pengawas (runner) tersebut untuk diberi catatan dan ditandatangani.

Model T 83 harus diisi oleh runner sebagai pegawai yang ikut berjalan di dalam lok. Pengawas runner bertanggung jawab dalam soal teknis lokomotip. Jika runner berada di ruang masinis maka tidak dibebaskan dari tanggung jawab seperti seorang masinis, tetapi masinis yang bertugas tetap memegang tanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan perjalanan kereta api.

MASINIS TIDAK DAPAT MELAKUKAN TUGAS DALAM PERJALANAN
Jika dalam perjalanan karena sesuatu hal masinis tidak dapat melakukan tugas sebagaimana mestinya, maka juru motor harus segera menghentikan kereta api dan memberitahukan hal tersebut kepada KP.

Jika masinis tetap tidak dapat melakukan tugasnya, juru motor harus mengambil alih pekerjaan masinis sampai dimana seorang masinis lain dapat menggantikannya.

Juru motor hanya dibolehkan menggantikan masinis jika KP turut dalam lokomotip untuk mengawasi pelaksanaan persilangan yang semestinya dan setelah ditunjuk salah seorang pegawai kereta api sebagai juru motor pembantu.

Masinis harus mengajarkan juru motor yang diperbantukan kepadanya tentang segala pengetahuan yang perlu agar juru motor tersebut dapat menggantikan masinis pada waktu masinis itu dalam perjalanan tiba-tiba tidak dapat melakukan pekerjaannya.

“Dead-man handle” akan mengamankan perjalanan kereta api dengan abar darurat, apabila masinis karena sesuatu sebab mendadak melepaskan / tidak dapat menguasai gagang tenaga.

JURU MOTOR TIDAK DAPAT MELAKUKAN TUGAS DALAM PERJALANAN
Jika kepada masinis hanya diperbantukan seorang juru motor saja maka jika juru motor itu dalam perjalanan tidak dapat melakukan pekerjaannya segera menghentikan kereta apinya dan meminta seorang juru motor kepada KP. Jika kepada masinis diperbantukan lebih dari seorang juru motor maka masinis boleh jalan terus.

PERJALANAN KERETA API DI JALAN BEBAS
Masinis harus berusaha menjalankan kereta api dengan kecepatan yang tetap sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan dalam peraturan perjalanan. Mencegah kelambatan kereta api adalah salah satu kewajiban yang penting.

Berhenti luar biasa di tengah jalan bebas hanya diperkenankan sbb :
Menurut peraturan perjalanan;
Atas perintah Kepala Daerah Operasi atau Kepala Seksi Operasi;
Untuk menghindarkan kecelakaan;
Karena kecelakaan.
Kereta api yang berhenti di jalan bebas karena kecelakaan boleh meneruskan perjalanan atas perintah KP dan setelah masinis meyakinkan bahwa tidak terdapat kerusakan yang membahayakan perjalanan.

Jika terjadi kelambatan maka masinis harus berusaha mengurangi kelambatan dengan mempercepat jalannya kereta api akan tetapi tidak boleh melebihi kecepatan maksimum dan tidak boleh mengurangi waktu perjalanan minimum yang telah ditetapkan antar stasiun.

Jika lokomotip dilengkapi dengan alat pengukur kecepatan yang berjalan baik, maka masinis tidak perlu memperhatikan waktu perjalanan minimum akan tetapi tetap dilarang melampaui kecepatan maksimum yang diizinkan.

Jika dalam LHM dicatat bahwa penilik jalan belum atau baru sebagian saja yang telah ditilik, maka masinis harus lebih waspada dan melihat-lihat penilik jalan. Dilarang mengejar kelambatan selama berjalan dibagian jalan yang belum ditilik.

Jika masinis menerima bentuk “Berjalan Hati-hati” dari pemimpin perjalanan kereta api maka masinis harus lebih waspada dan dilarang mengejar kelambatan dibagian jalan dimana berlaku “Berjalan Hati-hati” tersebut.

MASINIS HARUS MENERIMA BENTUK PERINTAH BH
Jika pesawat telegrap dan telepon T terganggu.

Jika kereta api akan melalui petak jalan yang belum di tilik seluruhnya atau sebagiannya.

Jika anak kunci sepur simpang hilang atau karena kealpaan ditinggalkan di sepur simpang, maka Masinis berjalan maksimum 30 km / jam. Kereta api harus berhenti di muka wesel penghubung sepur raya dan sepur simpang. KP memeriksa kedudukan wesel dan berjalan sampai stasiun berikut dengan kecepatan kereta api maksimum 30 km/jam.

Karena banjir, cuaca amat buruk dan sebab-sebab lainnya.

Masinis harus memperhatikan dan mentaati semboyan pengurangan kecepatan yang diperlihatkan karena adanya perbaikan jalan atau hal lain dan mentaati semboyan bahaya atau semboyan 3 yang diperlihatkan oleh pegawai ataupun bukan pegawai.

Jika terlihat semboyan tangan “berjalan perlahan lahan”, masinis pada waktunya harus mengurangi kecepatan kereta api di muka semboyan itu, hingga dibawah kecepatan maksimum yang dimaksud oleh semboyan tersebut. Setelah kereta / gerbong terakhir meliwati bagian jalan yang harus dilalui perlahan-lahan itu, masinis boleh menambah kecepatan kembali.

Pelanggaran terhadap “berjalan perlahan-lahan” dapat mengakibatkan sebagian atau seluruh rangkaian kereta api jatuh dari rel atau terguling, maka terhadap masinis yang tidak mentaati semboyan tersebut harus diambil tindakan yang tegas (jika perlu diturunkan pangkatnya atau dipecat).

Pengurangan kecepatan di jalan (selain dari pada pengurangan kecepatan biasa sehari-hari) di tempat tertentu, jika mungkin harus terlebih dahulu dicatat dan diparaf dalam LHM oleh PPKA yang bersangkutan.

Jika masinis melihat orang atau hewan di jalan yang akan dilalui atau perlintasan yang dijaga tidak ditutup, sedang semboyan “minta perhatian” yang diperdengarkan tidak berhasil, maka masinis harus berusaha menghentikan kereta apinya sebelum tiba ditempat itu.

Sewaktu kereta api berjalan ditanjakan terutama pada peralihan jalan datar ke tanjakan, masinis harus mengatur tenaga dengan sebaik-baiknya untuk mencegah perubahan tegangan alat perangkai secara mendadak.

Pada peralihan jalan menurun ke jalan datar atau dari datar ke tanjakan yang lebih berat, maka sebelum tempat peralihan dilalui maka tenaga lokomotip harus diperbesar sehingga tempat peralihan itu dapat dilalui dengan alat perangkai dalam keadaan tertarik.

Pada peralihan bagian jalan datar ke jalan menurun tenaga lok harus dikurangi / ditiadakan sebelum kereta api sampai pada tempat peralihan itu.

Jika kereta api yang sedang berjalan di tanjakan yang berat kemudian akan menginjak jalan yang sangat menurun dengan melalui jalan datar yang sangat pendek maka jika kereta api itu lebih panjang dari pada jalan datar tersebut masinis harus berhati-hati benar. Tenaga lokomotip harus ditiadakan sebelum lokomotip menginjak jalan yang menurun itu.

Sewaktu kereta api melalui jalan menurun 1/100 atau lebih selain lokomotip maka rangkaian harus di rem. Pada jalan yang menurun 1/40 atau lebih masinis harus berhati- hati benar. Pada jalan yang menurun harus senantiasa dimulai dengan kecepatan yang kecil dan gandar-gandar di rem.

Dalam keadaan berjalan kemudian masinis menerima tanda yang berasal dari rangkaian (rem darurat) maka masinis secepatnya memberhentikan kereta api dan membunyikan semboyan 39 (semboyan bahaya).

PERSILANGAN DI LIN RAYA
Persilangan kereta api di lintas sepur tunggal harus dilakukan di stasiun. Menyimpang dari peraturan hanya diperkenankan atas perintah Kepala Seksi Operasional pada waktu terjadi kecelakaan.

Persilangan dibagi atas dua jenis, yakni :
persilangan biasa (persilangan dengan kereta-api biasa)
persilangan luar biasa (persilangan dengan kereta-api fakultatif / luar biasa).
Persilangan dicatat dalam daftar waktu, maklumat perjalanan kereta api, telegram maklumat, laporan kereta api, tabel kereta api (hanya persilangan biasa) dan dalam laporan masinis (hanya persilangan luar biasa).

Jika kereta api yang bersilang dengan kereta api yang masuk di sepur simpang menurut peraturan perjalanan kereta api memperlihatkan bendera putih akan tanda bahwa kereta api lawan silang sudah datang dan sedang langsir di sepur simpang. Pada petang / malam hari peraturan itu tidak boleh dipakai. Kereta api langsung harus berhenti luar biasa.

PERSILANGAN DI LIN CABANG
Persilangan dapat dilakukan di stasiun dan di tempat simpangan, hanya jika kedua kereta api yang bersilang berhenti menurut peraturan perjalanan. Menyimpang dari peraturan itu hanya diperkenankan atas perintah Kepala Seksi Operasional pada waktu terjadi kecelakaan.

Semua persilangan dicatat dalam daftar waktu, maklumat perjalanan kereta api (MALKA), telegram maklumat (TEM), laporan kereta-api (LAPKA), tabel kereta-api dan dalam laporan harian masinis (LHM). Persilangan dibagi atas dua jenis, yakni persilangan biasa (persilangan dengan kereta-api biasa) dan persilangan luar biasa (persilangan dengan kereta api fakultatif / luar biasa).

PEMINDAHAN PERSILANGAN
Pemindahan persilangan dilakukan dengan maksud supaya kereta api yang terlambat tidak memperlambat perjalanan kereta api dari arah yang berlawanan, walaupun kelambatan kereta api yang terlambat akan bertambah sedikit.

PPKA stasiun persilangan resmi (atau di stasiun pemberhentian sebelumnya, atas permintaan PPKA stasiun persilangan resmi), memberitahukan pemindahan persilangan itu kepada masinis dan KP dengan memberikan bentuk Pemberitahuan Tentang Persilangan (PTP) . Pemberian PTP kepada masinis dan KP harus dilakukan memakai tanda penerimaan. Dalam PTP disebutkan nama stasiun persilangan yang resmi dan yang baru. Pemberian PTP mengandung perintah bahwa kereta api harus meneruskan perjalanan dengan tidak usah menunggu kereta api lawan persilangan.

Dalam PTP harus dicatat bahwa kereta api yang dipindahkan persilangannya harus memasang semboyan 27 sampai di stasiun tempat persilangan baru. Tentang pemasangan semboyan 27 yang telah dicatat dalam PTP tidak usah dicatat dalam LAPKA dan LHM.

Kereta api yang dipindahkan persilangannya setelah berangkat atau berjalan langsung dari setasiun persilangan resmi jika menurut peraturan perjalanan di stasiun persilangan baru berjalan langsung tidak perlu diberhentikan, kecuali jika kereta api lawan persilangan belum masuk.

Jika kereta api karena terlambat perjalanannya sudah harus bersilang dengan kereta api lawannya sebelum sampai di stasiun persilangan resmi, maka kepada KP dan masinis kereta api itu diberikan PTP oleh PPKA stasiun persilangan yang baru itu dengan catatan bahwa persilangan telah terjadi.

KP dan masinis kereta api dibebaskan dari tanggung jawab pengawasan persilangan di stasiun yang ditulis dalam kotak segi panjang dalam grafik. Walaupun demikian pemberian PTP pada waktu pemindahan persilangan tetap berlaku.

Pada lintas atau petak jalan yang memakai sistim blok atau tersebut dalam grafik selama sistim blok tersebut dalam keadaan baik dan digunakan maka KP dan masinis dibebaskan dari pengawasan persilangan. Bentuk PTP tidak dipergunakan. Pemasangan semboyan 27 diperintahkan dengan tertulis dalam LAPKA dan LHM untuk kereta api yang dipindahkan persilangannya.

Pada waktu hubungan blok terganggu berlaku semua peraturan tentang pemindahan persilangan pada bagian jalan yang tidak memakai sistim blok (KP dan masinis berkewajiban atas pengawasan persilangan dan bentuk PTP dipergunakan lagi).

KHUSUS UNTUK LIN CABANG
Kereta api langsung yang dipindah persilangannya di stasiun persilangan yang baru harus berhenti luar biasa. Pemindahan persilangan ketempat simpangan hanya dapat dilakukan untuk kereta api yang menurut perjalanan berhenti ditempat persilangan itu.

PEMINDAHAN PENYUSULAN
Di lin raya penyusulan tidak tercatat dalam LAPKA dan dalam tabel kereta api. KPdan masinis tidak diwajibkan mengetahui penyusulan dan pemindahan penyusulan.

Khusus untuk lin cabang, semua penyusulan tercatat dalam LAPKA, tabel kereta api dan LHM. Pemindahan penyusulan ke tempat simpangan hanya boleh dilakukan jika kedua kereta api menurut peraturan perjalanan berhenti di tempat simpangan.

KP dan masinis tidak boleh berangkat dari stasiun atau tempat simpangan, sebelum mereka mendapat keyakinan bahwa penyusulan yang tercatat dalam LAPKA, tabel kereta api dan LHM telah sungguh terjadi di stasiun atau di tempat simpangan itu, kecuali jika penyusulan itu dipindahkan ke lain tempat. Pemindahan penyusulan dicatat oleh KP atau oleh PPKA dalam LAPKA atau LHM.

Karena pemindahan penyusulan kereta api langsung tidak usah diperhentikan, kecuali kereta api langsung yang berjalan sebagai kereta api muka yang terlambat yang harus disusul oleh kereta api lain harus diperhentikan luar biasa. Pencatatan dalam laporan kereta api dan laporan harian masinis kereta api yang berjalan langsung di stasiun tempat terjadinya penyusulan yang dipindahkan masing-masing dikerjakan oleh KP dan masinis

TINDAKAN PADA WAKTU TERJADI BAHAYA
Pada waktu terjadi bahaya masinis dan juru motor harus mengambil tindakan yang sebaik-baiknya dan berusaha agar akibat dari kecelakaan tersebut menjadi sekecil mungkin.

Masinis dan juru motor boleh meninggalkan lokomotip pada waktu ada bahaya mengancam tetapi tidak boleh dilakukan sebelum berusaha untuk menghindarkan / memperkecil bahaya, sehingga keberadaan di dalam lokomotip tidak akan ada gunanya lagi.

Jika terjadi kebakaran pada lokomotip, masinis segera memberhentikan motor diesel, sedangkan juru motor segera mengambil alat pemadam kebakaran dan berusaha untuk memadamkan api. Lokomotip harus bersih dari bocoran minyak bakar dan kotoran (misalnya lap atau majun) yang mudah terbakar,

Dalam menghadapi bahaya, abar darurat harus dilayani dengan mengingat keamanan penumpang dan rangkaian kereta api yang ditariknya.

SINYAL UTAMA
Jika masinis melihat bahwa sinyal masuk yang berlaku baginya berada dalam kedudukan “tidak aman” atau dalam kedudukan yang harus dianggap „tidak aman”, masinis harus berusaha menghentikan kereta apinya dimuka sinyal itu.

Dilarang meliwati sinyal masuk „tidak aman” yang berlaku baginya sekalipun hanya meliwati sedikit. Kereta api yang melanggar sinyal masuk yang “tidak aman” tidak boleh bergerak hingga masinis menerima perintah lebih lanjut dari kondektur pemimpin.

Jika masinis berpendapat bahwa berhenti di tempat setelah melanggar sinyal itu berbahaya, maka dibolehkan segera mundur kembali ke muka sinyal dengan memperhatikan hal yang mungkin dapat membahayakan, misalnya kemungkinan wesel terbuka karena tertabrak, perlintasan di belakang kereta api tidak tertutup atau tidak dijaga.

Jika di muka sinyal yang kedudukannya “tidak aman” terdapat tanjakan pendek, maka harus berhenti di muka tanjakan itu guna memudahkan penggerakan kereta api sewaktu hendak meneruskan perjalanannya.

Jika sinyal yang kedudukannya “tidak aman” setelah kereta api berhenti, kemudian ditarik „aman”, maka masinis boleh meneruskan perjalanannya tanpa perintah dari KP dan membunyikan semboyan 35.

Jika masinis ragu-ragu terhadap kedudukan sinyal maka harus memberhentikan kereta apinya dimuka sinyal dan memberitahukan kepada KP. Setelah KP memeriksa kedudukan sinyal harus mengambil keputusan kereta api boleh meneruskan perjalanannya atau tidak.

Setelah kereta api diperhentikan di muka sinyal masuk atau di muka sinyal utama di jalan bebas yang berkedudukan tidak aman, maka masinis harus membunyikan semboyan „minta per hatian” (semboyan 35). Selama sinyal masuk belum juga di buka, semboyan “minta perhatian” itu tiap 3 menit harus diulangi. Setelah sinyal masuk atau sinyal utama itu ditarik aman, masinis boleh menggerakkan kereta apinya dengan membunyikan semboyan „minta perhatian” tanpa menunggu perintah KP.

Sewaktu hubungan telegrap dan hubungan telepon kawat T terganggu, kereta api tidak boleh ditahan di muka sinyal utama pada petak jalan yang bersangkutan, kecuali jika sangat perlu. Jika terjadi demikian KP harus segera bertindak untuk memperlihatkan semboyan 3 pada jarak 150 meter dibelakang kereta api.

Masinis boleh melalui sinyal utama yang kedudukannya tidak aman, apabila kepadanya diberikan bentuk perintah melalui sinyal yang “tidak aman” yang ditandatangani oleh PPKA yang menguasai sinyal itu (bentuk MS) atau di belakang sinyal (di emplasemen) diperlillatkan tanda perintah masuk (di lin cabang tidak berlaku).

Tanda perintah masuk berupa (siang hari) papan persegi panjang berwarna hijau bertepi putih atau putih bertepi hijau (disebut papan perintah masuk) dan (malam hari) lentera bercahaya hijau yang digerakkan lurus ke atas dan ke bawah. Tanda perintah masuk tidak diperlihatkan untuk sinyal keluar sinyal arah dan sinyal perangkaian wesel.

Jika kereta api harus melalui sinyal “tidak aman” atas tanda perintah masuk, maka KP harus bertempat di lokomotip sebagai pengatur. Kereta api itu harus berhenti di dekat tanda perintah masuk itu untuk memberi petunjuk kepada masinis dan KP oleh pegawai yang memperlihatkan tanda perintah masuk itu. Tentang hal tersebut harus dicatat dalam laporan harian masinis mengenai sinyal “tidak aman” yang sudah dilalui dan sepur yang akan dilalui masuk atau langsung.

Tanda perintah masuk harus diperlihatkan terus hingga kereta api berhenti di dekatnya. Jika tidak demikian masinis harus memberhentikan kereta apinya pada saat tanda perintah masuk tidak terlihat lagi dan menunggu petunjuk di tempat itu.

Kereta api yang masuk atas perintah dengan bentuk perintah MS atau tanda perintah masuk harus berjalan dengan kecepatan maksimum 30 km / jam karena ada kemungkinan wesel-wesel yang dilalui dari arah ujungnya tidak terkancing.

Jika kereta api terpaksa berhenti di muka sinyal jalan silang yang berkedudukan tidak aman dan ternyata, bahwa penjaga tempat jalan silang itu tidak ada ditempatnya atau tidak dapat melakukan pekerjaannya, maka masinis dan KP harus bersama-sama memeriksa keadaan keamanan di tempat jalan silang itu dan meyakinkan kedudukan sinyal-sinyal jalan kereta api yang menyilang.

Bilamana ternyata tiada rintangan, maka KP memberi perintah kepada masinis untuk melalui sinyal jalan silang yang berkedudukan tidak aman itu. Perintah itu harus ditulis dalam LHM. Kereta api harus diperhentikan di stasiun yang pertama didatangi untuk melaporkan keadaan itu.

Jika kedudukan sinyal masuk, sinyal sepur masuk, sinyal keluar, atau sinyal arah disuatu stasiun tidak aman dan ternyata PPKA tidak ada ditempatnya atau tidak dapat melakukan pekerjaannya, maka KP harus minta petunjuk-petunjuk dari stasiun mukanya.

Apabila sinyal blok dijalan bebas berkedudukan tidak aman dan ternyata bahwa penjaga blok tidak ada ditempatnya, maka KP harus bertempat di lokomotip siap untuk mengantar kereta api berjalan melalui sinyal blok yang “tidak aman” itu dengan kecepatan maksimum 30 km / jam sampai pada sinyal blok depannya atau sampai stasiun pertama di muka dan berhenti untuk melaporkan keadaan itu.

Jika masinis menjumpai sinyal utama yang padam lampunya harus memberhentikan kereta apinya di muka sinyal itu. JIka ternyata oleh masinis dan KP yakin bahwa pada sinyal itu walaupun lampunya tidak menyala terlihat semboyan 5 atau 6 (slang hari) maka boleh menggerakkan kereta apinya ber jalan melalui sinyal itu masuk emplasemen dengan puncak kecepatan 30 km/jam sampai pada sinyal dimukanya. Kejadian tersebut harus dicatat dalam LAPKA dan LHM.

Jika sinyal utama (bukan sinyal keluar atau sinyal arah) terganggu tidak dapat dikembalikan kedalam kedudukan “tidak aman” maka oleh pegawai stasiun diperlihatkan semboyan 3 untuk semua kereta apa yang datang menuju ke sinyal yang terganggu itu oleh seorang dengan semboyan 3 bertempat di depan sinyal tersebut pada jarak 600 meter atau jika sinyal itu mempunyai sinyal muka pada jarak 100 meter di depan sinyal muka itu, sedang yang lain di dekat sinyal yang terganggu itu. Lampu sinyal yang terganggu dan lampu sinyal muka jika menyala harus segera dipadamkan.

PEMAKAIAN KLAKSON DALAM DINAS KERETA API
Pemakaian klakson harus tetap dibatasi hingga pemberian semboyan-semboyan yang perlu dan yang diharuskan. Pemberian semboyan-semboyan tersebut dengan klakson harus dilakukan dengan sepantasnya dan tidak berlebih-lebihan.

Semboyan klakson “minta perhatian” yang diperdengar oleh masinis setelah menerima semboyan “perintah berangkat” dari KP harus senantiasa dipergunakan sebelum kereta api bergerak.

Masinis diharuskan memperdengarkan semboyan “minta perhatian” dalam hal melihat :
ada orang berjalan di atas jalan yang akan dilalui
perlintasan jalan yang dijaga ternyata tidak ditutup pada waktunya
hendak memasuki terowongan
kereta api biasa sewaktu mendekati stasiun atau tempat perhentian melihat bahwa kereta apinya akan dimasukkan ke sepur yang menyimpang dari biasanya
di pinggir jalan kereta api terlihat tanda (papan petunjuk) bahwa masinis harus memperdengarkan semboyan “minta perhatian” harus dibunyikan pada saat lokomotip melalui papan petunjuk itu.
Masinis kereta api luar biasa yang perjalanannya tidak diumumkan terlebih dulu harus memperdengarkan semboyan 35 tiap kali pandangan yang luas terhalang. Demikian juga semboyan “minta perhatian” harus diperdengarkan berulang-ulang pada waktu pandangan menjadi terhalang karena hujan lebat atau kabut dan apabila karena hujan lebat yang disertai guntur atau angin kereta api menjadi tidak terdengar. Dipegunungan dimana pemandangan terhalang karena banyak tikungan, masinis harus sering kali memberikan semboyan “minta perhatian”.

Sewaktu kereta api sedang mendekati sinyal masuk yang “tidak aman” semboyan “minta perhatian” diperdengarkan setelah kereta api berhenti dimuka sinyal itu. Selama sinyal masuk itu belum ditarik “aman” masinis diwajibkan mengulang semboyan tersebut setiap tiga menit sekali.

Semboyan yang bertalian dengan pelayanan rem pada umumnya hanya diperdengarkan pada waktu pengereman yang harus dilakukan secara mendadak atau pada waktu kereta api hendak berhenti ditengah jalan (misalnya : di muka semboyan tangan atau sinyal „tidak aman”, pada waktu ada kecelakaan dan lain-lain sebagainya) dan selanjutnya untuk mengatur kecepatan pada waktu kereta api mendekati semboyan “berjalan perlahan-lahan” atau untuk mengatur kecepatan di jalan yang menurun apabila kereta api mempergunakan rem tangan.

Sewaktu hendak berhenti di stasiun secara biasa menurut peraturan dinas, semboyan yang bertalian dengan pelayanan rem biasanya tidak diperdengarkan kecuali apabila tidak terdapat kerjasama yang cukup antara pegawai lokomotip dan pegawai kereta api sehingga kereta api me nunjukkan tanda-tanda akan berhenti dimuka atau melampaui tempat yang seharusnya.

MENAMBAH DAN MENGURANGI BATAS PUNCAK.
Berat kereta api yang diizinkan untuk tiap jenis lokomotip, tiap jenis kereta api pada semua lintas dalam kedua jurusan disusun dalam suatu daftar yang harus dimiliki oleh tiap dipo.

Dengan persetujuan masinis dan jika ada penetapan lain maka berat kereta api yang diizinkan dapat ditambah dengan 10% akan tetapi tambahan itu tidak boleh melebihi 15 ton.

Jika karena sesuatu sebab (misalnya keadaan lokomotif dan keadaan cuaca dsb), masinis berpendapat bahwa tidak dapat menarik berat kereta api yang diizinkan dalam waktu yang telah ditetapkan maka masinis dapat meminta pengurarangan muatan kepada PPKA / KP. Alasan yang menyebabkan masinis meminta pengurangan berat muatan harus diterangkan olehnya dalam LHM.

Di lintas pegunungan dengan tanjakan yang terus-menerus atau dengan tanjakan dan jalan turun yang bergantian maka masinis boleh meminta 10% pengurangan dari berat kereta api tanpa tanggung jawab jika masinis menganggap perlu oleh karena keadaan cuaca yang jelek atau sebab musabab lainnya.

KS / PPKA mencatat dalam LHM berat kereta api yang melebihi berat yang diizinkan.

PENYEDIAAN BAHAN BAKAR, PELUMAS, AIR PENDINGIN DAN AIR SULING BATERAI
Bahan bakar HSD dapat disediakan di stasiun utama atau di dipo.

Pemberian bahan bakar ini dilakukan dengan bon permintaan menurut penunjukkan pada meteran gallon yang dibuat rangkap dua. Lembar kesatu diberikan pada masinis untuk diberikan pengawas dipo induk dan lembar kedua untuk dipo pemberi bahan bakar.

Jika diperlukan bon permintaan dari gallonmeter dapat diganti dengan bon permintaan bahan bakar biasa dari pengawas ruas luar.

Bahan pelumas didapat oleh masinis dengan memberikan bon permintaan bahan pelumas dari pengawas ruas luar.

Air pendingin yang digunakan oleh dipo harus ditentukan lebih dulu analisa kimianya, sehingga kandungan zat air dapat diketahui. Pemberian air pendingin dapat dilakukan tanpa bon. Untuk Iok diesel tertentu air pendingin khusus dicampur dengan DROMUS B dan lok lain khusus dengan NALCO 38 atau bahan lain yang sifatnya sama. Penggunaan air pendingin lain hanya diperkenankan dalam keadaan darurat. Jika Iok berada jauh dari dipo induk maka masinis harus melaporkan tertulis dalam model T 200 atau model sejenis untuk perhatian dipo induknya.

Pengisian penambahan air baterai seorang masinis mendapatkan air baterai (air suling) dari pengawas ruas diesel tanpa bon.

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
Pemeriksaan pendahuluan pada lok diesel harus dikerjakan oleh masinis bersama juru motor terhadap :
truck-bogi dan peralatannya
memperhatikan kemungkinan adanya retakan-retakan pada bogie, pegas, dll
kemungkinan kendor pada baut, mur, mur-kontra, split-pen, pen, borg-ring atau kehilangan perangkat pada roda, pot, abar dan stang-stang abar, minyak pot, sikat arang harus dalam keadaan baik atau harus diganti jika perlu
pemeriksaan bagian luar lok diesel
pemeriksaan ruang masinis terhadap meteran-meteran, perala tan pengabaran, peralatan keamanan atau benda-benda asing yang mungkin tidak seharusnya ada diruang itu
peralatan semboyan yang harus dibawa.
Selama menjalankan dinas, masinis harus mempunyai arloji yang berjalan baik, laporan harian masinis model T 83 yang didapatnya dari pengawas ruas luar dan model T 200 tentang laporan tehnik lok dari pengawas ruas diesel.

MENGHIDUPKAN MESIN DIESEL
Persiapan menghidupkan mesin yang harus dilakukan ialah :
memeriksa dan menambah Hsd
memeriksa dan menambah minyak pelumas
memeriksa dan menambah air pendingin
memeriksa dan menambah air baterai.
Meskipun pada waktu mematikan mesin diesel seorang masinis diharuskan mengikat abar lok, akan tetapi sebelum menghidupkan motor diesel sesuatu lok seorang masinis diwajibkan meyakinkan apakah abar lok masih terikat. Menghidupkan mesin hanya diperbolehkan dengan abar terikat.

Sebelum menghidupkan mesin, air kondensasi dalam tangki angin harus dibuang terlebih dihulu.

Sebelum menghidupkan mesin, air kondensasi di dalam tangki Hsd yang biasa mengendap dibawah, harus dibuang dengan membuka keran pembuang.

Jika mesin diesel sudah berselang lama tidak dihidupkan, maka harus diperiksa kemungkinan adanya bocoran air pendingin kedalam silinder, untuk menghindarkan adanya “pukulan air”. Poros mesin harus diputarkan lebih dahulu dengan pengungkit sebanyak satu atau dua putaran, sedangkan minyak pelumas jumlahnya (dilihat pada tongkat penduga) tidak mencurigakan karena terlalu banyak.

Jika hal ini terjadi dan poros mesin pada sesuatu kedudukan tidak dapat lagi diputarkan, maka mesin diesel tidak boleh dihidupkan.

Dengan gagang pelayan yang oleh pengawas diesel diberikan kepada masinis yang akan menjalani dinasan lok yang bersangkutan dapat dimulai dengan menghidupkan mesin diesel, yaitu memastikan saklar-saklar listrik utama dimasukkan, pompa minyak bahan bakar dihidupkan, yakinkan transmisi pada kedudukan tidak bertenaga, yakinkan abar dalam kedudukan terikat, apabila perlu pemanas air pendingin dijalankan dahulu hingga mencapai suhu yang ditentukan kemudian tombol untuk menghidupkan mesin ditekan selama tidak lebih dari 10 detik.

PEMERIKSAAN SETELAH MESIN HIDUP
Setelah mesin diesel dihidupkan harus diadakan pemeriksaan yaitu :
tekanan kompressor harus menunjuk harga yang ditentukan
tekanan minyak pelumas harus menunjuk harga yang ditentukan
tekanan minyak transmisi harus menunjuk harga yang ditentukan
arus pengisian baterai harus menunjuk harga yang makin berkurang.
pengereman udara bekerja baik.
pelumasan pada tempat-tempat tertentu (turbo-charger) berjalan baik.
lampu utama, lampu tanda dan lampu penerangan kamar mesin dan kamar masinis dapat dinyalakan.
pembalik arah dapat bekerja kedua arah.

PEMERIKSAAN DI KAMAR MESIN
Periksa kemungkinan kebocoran-kebocoran :
pipa HSD
pipa pelumas
pipa tekanan angin
pipa transmisi.
Periksa kedudukan minyak pelumas pada gelas duga dan kejadian yang menyimpang dari keadaan biasa misalnya bunyi-bunyi yang mencurigakan, getaran-getaran yang tidak biasa dan letak / pengikat benda yang tidak sesuai.

Pada lokomotip yang mempunyai dua ruang masinis, maka ruang masinis yang tidak akan ditempati oleh masinis dan juru motor harus dalam keadaan terkunci.

MENGELUARKAN LOK DARI DIPO
Sebelum keluar dari los (dari halaman dipo) masinis harus meyakinkan membawa :
laporan harian masinis
tabel kereta-api
buku riwayat lokomotip
untuk diisi seperlunya selama melayani lokomotip yang bersangkutan dan mereka harus memperhatikan bahwa pengukur kecepatan disegel, kertas cukup tersedia dan bekerja baik (hal mana biasanya dapat diketahui / diperiksa dengan memutar pegas dari lonceng tersebut beberapa kali).

Menjelang permulaan dinas lokomotip yang telah siap harus disediakan di dekat perbatasan dipo dengan stasiun, kemudian lokomotip itu dilangsir ke emplasemen atau ke muka rangkaian dibawah pimpinan pegawai Dinas Lalu lintas yang bertugas dinas langsir.

Diluar halaman dipo, masinis tidak dibolehkan langsir sendiri diemplasemen.

Sewaktu melakukan gerakan-gerakan langsir dihalaman dipo, masinis dan juru motor harus menyaksikan :
apakah sepur yang akan dilalui tidak terhalang
wesel-wesel berada dalam kedudukan yang semestinya.
Mereka bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi karena mereka tidak mentaati peraturan atau karena ceroboh dalam melakukan tugasnya.

BAB I – PERATURAN UMUM

Dinas lokomotip ialah semua kegiatan yang mengenai persiapan dan pemakaian lokomotip, untuk keperluan perjalanan kereta api, langsiran dan dinas cadangan.

PELAKSANAAN DINAS LOKOMOTIP
Kepala Sub Direktorat Sarana (KT) wajib dan bertanggungjawab untuk memerintahkan pelaksanaan semua pekerjaan tepat waktu, dan mengambil tindakan guna menjamin penyelenggaraan dinas lokomotip berjalan dengan baik sesuai reglemen ini.

Guna melaksanakan kewajiban tersebut, KT dapat menggunakan tenaga semua pegawai yang menjadi bawahannya.

Sewaktu dinas kereta api atau dinas langsir maka pegawai loko motip diperbantukan kepada Kepala Sub Direktorat Lalu Lintas (KL) dan harus taat pada semua petunjuk yang diberikan oleh pegawai yang berwenang dari dinas tersebut, yaitu :
selama dalam perjalanan oleh kondektur pemim pin kereta api,
sewaktu berhenti di stasiun oleh Kepala Stasiun,
waktu dinas langsir harus tunduk pada petunjuk dan perintah petugas yang mempunyai wewenang untuk memimpin suatu langsiran.
Pegawai lokomotip bertanggung jawab penuh atas semua akibat dari kelalaiannya selama melakukan tugasnya.

Pegawai yang diwajibkan melaksanakan dinas lokomotip harus senantiasa memperhatikan tujuan utama pengoperasian kereta api, yaitu pengangkutan kereta api dengan aman dan menurut waktu yang telah ditetapkan.

Sepanjang dapat disesuaikan dengan peraturan dinasnya, pegawai dinas lokomotip harus berusaha memenuhi permintaan pegawai Dinas Lalu-Lintas.

PEMBAGIAN LOKOMOTIP
Lokomotip dibagi menurut ketetapan KT untuk setiap Daerah Operasi atau Balai Yasa sesuai dengan kebutuhan operasional.

Pengaturan dinas lokomotip yang biasanya dilakukan oleh Kasi Sarana jika perlu harus berkordinasi dengan Kasi Sarana yang bersangkutan.

Jika dipandang perlu pengaturan dinas lokomotip besar dapat ditetapkan oleh KT kemudian dicetak atau diperbanyak oleh Kasi Sarana. Pengaturan dinas lokomotip besar yang ditetapkan oleh KT harus dicetak atau diperbanyak oleh Kantor Pusat.

Pengaturan dinas lokomotip dikirim kepada semua petugas yang berkepentingan dan kepada petugas dari dinas lain.

Pengaturan dinas pegawai dilakukukan oleh Kasi Sarana dengan cara yang sedemikian rupa agar menyiapkan dinas pengganti yang cukup, jam kerja yang normal dan pegawai tidak melampaui batas jam kerja yang telah ditetapkan.

Dalam pengaturan dinas lokomotip untuk tiap dipo disebutkan :
jumlah minimum setiap jenis lokomotip yang harus ada di dipo
nomor kereta api yang harus dijalankan setiap hari per jenis lokomotip
lamanya waktu lokomotip digunakan untuk langsiran dan / atau cadangan
pemeriksaan harian / berkala.
Jika dipandang perlu Kasi Sarana dapat merubah pengaturan dinas lokomotip yang telah ditetapkan setelah mendapat persetujuan KT.

Untuk perjalanan kereta api fakultatif atau kereta api luar biasa maka urusan dinas lokomotip yang akan menariknya diatur oleh Kasi Sarana yang bersangkutan dan jika perlu ia dapat berkordinasi dengan Kasi Sarana yang berdekatan.

Dalam keadaaan mendesak, pengaturan ini dapat juga dilakukan oleh KDT yang bersangkutan, setelah melaporkan kepada Kasi Sarana.

Untuk angkutan luar biasa secara besar-besaran atau selama jangka waktu yang panjang dan membutuhkan tambahan lokomotip, maka pengaturan di bidang Sarana diatur menurut petunjuk KT.

Dalam keadaan luar biasa (misalnya : rintang jalan, kerusakan pada lokomotip atau kelambatan yang banyak), dibolehkan menyimpang dari dinas lokomotip yang telah ditetapkan jika KDT menganggap perlu, akan tetapi semua penyimpangan tersebut harus diketahui Kasi Sarana.

Di Dipo Lokomotip, dinas lokomotip dan pegawainya untuk esok hari harus ditulis pada papan yang disediakan.

PERSYARATAN UNTUK MASINIS
Pegawai hanya boleh diserahi kewajiban dan tanggung jawab mengemudikan lokomotip sebagai masinis setelah yang bersangkutan :
bekerja sebagai calon masinis selama 2 tahun
bekerja di Balai Yasa bagian perangkat diesel selama 1 tahun
bekerja sebagai calon masinis / juru-motor / asisten masinis selama 1 tahun.
Selanjutnya dalam pengujian harus dapat membuktikan bahwa yang bersangkutan memahami :
tata cara mengemudikan dan memelihara Ioko motip
mampu bekerja sebagai tukang tempa dan tukang bubut
mampu memperbaiki kerusakan kecil yang sering terjadi pada lokomotip
memahami undang-undang dan peraturan-peraturan dinas
memahami pemakaian motor diesel
dapat menulis dan membaca
mempunyai tinggi badan minimum 160 cm.
Setelah itu yang bersangkutan harus lulus pemeriksaan ketajaman penglihahan dan pendengaran sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku bagi masinis yang mengemudikan suatu jenis lokomotip.

Jika yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan tersebut di atas maka kepadanya dapat diberikan surat tanda kecakapan oleh KT (model T 62).

Masa percobaan 2 tahun diatas, dapat dikurangi dengan sebanyak 6 bulan oleh Direksi PT. Kereta Api (Persero)

Seorang masinis tidak boleh menjalankan dinas kereta api sebelum memahami keadaan lintas.

PERSYARATAN JURU MOTOR / ASISTEN MASINIS
Juru motor harus memahami :
cara mengemudikan lokomotip, agar dapat menggantikan masinis dalam keadaan darurat
dapat membaca dan menulis
telah bekerja sebagai calon juru motor hingga lulus dalam pengujian
dapat membuktikan kecakapannya dalam hal motor diesel
lulus pemeriksaan ketajaman pendengaran dan penglihatan sesuai syarat yang ditentukan.
Jika telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan maka kepadanya diberikan surat tanda kecakapan oleh KT (model T 63).

Seorang juru motor tidak boleh bekerja sendiri di lintas sebelum paham tentang keadaan lintas tersebut.

PENGETAHUAN PEGAWAI LOKOMOTIP TENTANG LINTAS
Seorang masinis dianggap telah mengikuti perjalanan dalam lokomotip tanpa pertanggungjawaban untuk memahami lintas dan dalam pengujian dibuktikan bahwa dapat menyebutkan :
urutan nama stasiun-stasiun
tempat-tempat perhentian
sepur-sepur simpang yang ada pada lintas itu
hafal persilangan dan sepur simpang tiap setasiun / perhentian
hafal papan-papan pengurangan kecepatan tetap yang ada di lintas
Jika seorang masinis dalam tiga bulan berturut-turut tidak jalan disuatu lintas dianggap tidak paham lagi tentang lintas itu, maka yang bersangkutan harus terlebih dulu mengikuti kembali perjalanan di dalam lokomotip tanpa tanggung jawab sebanyak satu atau beberapa kali.

Semua pemberitahuan bagi pegawai lokomotip mengenai dinas perjalanan kereta api, yang apabila tidak diketahui oleh yang bersangkutan dapat membahayakan operasional kereta api misalnya :
mulai dipergunakannya alat pengamanan baru
perubahan, pemindahan atau penghapusan semboyan-semboyan tetap
harus ditandatanqani oleh pegawai lokomotip, sebagai penyataan bahwa pemberitahuan telah diketahui dan dimengerti sebelum mereka diperkenankan jalan di lintas dimana perubahan tersebut dilakukan.

Pada perubahan yang kompleks, misalnya mulai dipergunakannya peralatan pengamanan baru di stasiun besar, maka pegawai yang bersangkutan harus pula diberi penjelasan secara lisan oleh KDT.

Reglemen 16A

BAB I – PERATURAN UMUM
Penjelasan tentang dinas lokomotip
Pelaksanaan dinas lokomotip
Kordinasi dengan dinas lain
Pembagian lokomotip dan pengaturan dinasnya
Persyaratan masinis
Persyaratan juru motor
Pengetahuan pegawai lokomotip tentang lintas

BAB II – PERSIAPAN DINAS
Penyediaan bahan bakar, pelumas, air pendingin dan air suling baterai
Pemeriksaan pendahuluan
Menghidupkan mesin diesel
Pemeriksaan setelah mesin hidup
Pemeriksaan kamar mesin
Mengeluarkan lokomotip dari dipo

BAB III – DINAS KERETA API
Menempatkan lokomotip dimuka kereta api
Laporan harian masinis
Tabel kereta api
Keberangkatan kereta api
Pembagian tugas masinis dan juru motor selama dalam perjalanan
Memperhatikan keadaan jalan dan semboyan-semboyan
Masinis tidak dapat melakukan pekerjaannya daIam perjalanan
Juru motor tidak dapat melakukan pekerjaannya dalam perjalanan
Perjalanan kereta api di jalan bebas
Pengaturan kecepatan kereta api
Tanjakan dan turunan
Persilangan di lin raya / lin cabang dan pemindahan persilanqan
Tanggung jawab kondektur pemimpin dan masinis tentang pengawasan persilangan
Penyusulan dan pemindahan penyusulan
Tindakan pada waktu ada bahaya
Sinyal utama
Membunyikan klakson dalam dinas perjalanan kereta api
Menambah dan mengurangi batas puncak kecepatan dan berat kereta api

BAB IV – DINAS DI STASIUN ANTARA DAN STASIUN TUJUAN
Datang, berhenti atau berjalan langsung di stasiun
Peraturan tentang memasukkan kereta api di sepur isi
Kecepatan kereta api masuk
Tindakan selama kereta-api berhenti di stasiun antara
Pengambilan bahan bakar dan minyak pelumas
Dinas sesudah perjalanan berakhir dan lokomotip tidak dipergunakan
Akhir dinas
Dinas cadangan

BAB V – DINAS LANGSIR
Larangan langsir di luar batas dipo tanpa pimpinan
Larangan langsir bagi juru motor langsir
Langsir tanpa juru motor
Peraturan umum tentang langsir
Tanggung jawab masinis
Langsir keluar batas langsiran
Tugas juru motor pada waktu langsir
Pemakaian klakson dalam dinas langsir
Gerakan langsir yang kompleks
Langsir sendal pancing
Larangan mengerem pada waktu melalui sepur lempeng pada wesel Inggris
Mencatat lama waktu dinas langsir dalam laporan harian masinis

BAB VI – TRAKSI TUNGGAL DAN GANDA
Izin bagi lokomotip untuk berjalan dalam traksi tunggal / ganda
Penempatan lokomotip secara traksi tunggal
Mendorong
Penempatan lokomotip traksi ganda dalam dinas perjalanan kereta api
Perjalanan kereta api dengan dua lokomotip dimuka
Perjalanan kereta api dengan lokomotip di muka dan di belakang
Traksi ganda lebih dari dua lokomotip

BAB VII – PERATURAN KHUSUS
Berhenti di jalan bebas
Berjalan sepur salah di petak jalan sepur kembar
Tindakan sewaktu ada kerusakan pada lokomotip, kereta atau gerbong
Tindakan sewaktu materiel keluar dari rel
Cacat pada gandar dan roda
Cacat pada pegas tumpuan, balans dan gantungan pegas
Alat perangkai kereta api putus / terlepas dalam perjalanan
Perjalanan kereta api ke tempat halangan di jalan betas dan kembali
Klakson tidak dapat dipergunakan
Melindas orang atau hewan besar
Berhenti di tanjakan
Pengurangan kecepatan hingga secepat orang berjalan kaki
Jalan tidak dapat dilalui
Pengiriman lokomoltip dingin
Tindakan mencegah bahava kebakaran
Membatasi pembentukan asap
Melalui terowongan
Membunyikan klakson
Memutar lokomotip diputaran
Izin naik lokomotip
Mengemudikan lokomotip
Tinggal dalam ruangan tempat masinis
Larangan membawa baranq-barang di dalam lokomotip
Merokok sewaktu menjalankan dinas
Masinis sebagai pemimpin kereta api
Tinggi alat perangkai dan penyangga hewan
Inventaris lokomotip
Alat-alat semboyan pada lokomotip penyembur pasir
Pelaturan istimewa mengenai perjalanan kereta api pada lintas sepur tunggal bergigi
Pemasangan semboyan pada kereta api

BAB VIII – MUATAN DAN SUSUNAN RANGKAIAN
Muatan yang melampaui profil ruang muatan
Menyusun rangkaian kereta api

BAB IX – PENGEREMAN KERETA API DENGAN REM TANGAN
Pengereman
Kewajiban pelayan rem

BAB X – PENGEREMAN KERETA API DENGAN REM OTOMATIS
Pemakaian kereta / gerbong dalam kereta api
Percobaan rem otomatis
Pemeriksaan pakem / udara tekan oleh PPKA dan KP sebelum berangkat

BAB XI – PERATURAN PERJALANAN KERETA API DALAM DINAS MALAM
Petak jalan malam
Semboyan kereta api
Laporan harian masinis
Tabel kereta api
Kereta api dalam dinas malam terhadap kedudukan sinyal utama
Menggunakan lokomotip pendorong
Pelayanan sepur simpang di jalan bebas
Perjalanan lori / konpoi gerobak dinas
Berjalan sepur salah
Kereta api dinas malam yang berhenti di jalan bebas dan rintang jalan
Tindakan istimewa terhadap kelambatan kereta api malam yang terakhir

MASINIS

Masinis adalah orang yg mengendalikan sebuah lokomotif untuk menarik rangkaian kereta api.Tapi selama ini pekerjaan sebagai masinis kurang mendapat pengakuan dari kalangan masyarakat,karna sebagian masyarakat menganggap bahwa masinis tugasnya hanya menjalankan,mengerem dan memberi peringatan dgn cara menarik tuas klakson tidak usah menyetir.Tapi sebenarnya tugas masinis sangat berat dibandingkan pengemudi transportasi darat lainnya,masinis harus bisa membaca sinyal,mengendalikan kereta dgn hati2 agar tidak terjadi sesuatu yg tidak diinginkan,harus selalu berkomunikasi dgn asisten ataupun petugas stasiun lewat radio,masinis juga membawa ribuan nyawa hanya dengan tangan kirinya

Perhitungan dalam menjalankan sebuah kereta sangat diperlukan,sebagai masinis harus mempunyai kemampuan ilmu fisika yg sangat baik,dikarenakan diperjalanan kereta tidak lepas dari yg namanya fisika,contoh dalam hal yg paling mendasar yaitu pengereman,pengereman itu tidak hanya mengerem sesuka hati,harus ada perhitungannya,misalkan kereta akan berhenti di sebuah stasiun yg jaraknya kira2 500 m lagi didepan,dgn kecepatan 50km/jam masinis harus mempunyai perhitungan yg pas agar KA tidak melanggar/melewati sinyal keluar dan telalu cepat berhenti,oleh karena itu fisika sangat bermain disini.Dalam tikungan,masinis harus tahu berapa derajat tikungan tersebut,dan kecepatan harus dibatasi agar tidak anjlok.Di sebuah jembatan kecepatan KA pun dibatasi,jika terlalu cepat KA akan……terjun bebas ke dalam jurang,jika terlalu lambat,belum tentu jembatan mampu menopang KA yg berjalan lambat,karna rata2 jembatan kuat menopang pada saat KA sedang berjalan dlm kecepatan tertentu.

Selain itu,masalah keadaan rel dan bantalannya harus diperhatikan,karna jika rel ataupun bantalannya kedaanya kurang baik,misalkan dgn menggunakan bantalan kayu,kecepatan KA harus dibatasi,jika tidak KA akan anjlok karena bantalan tidak kuat menahan berat KA,bantalan tersebut akan mempengaruhi kestabilan sebuah rangkaian KA dan keadaan rel juga sangat mempengaruhi KA,dan masih banyak lagi tugas masinis yg sangat berat.

Selain factor eksternal tadi,ada factor internal seperti kelelahan masinis,kurangnya penglihatan,stress yg mengakabitkan kurangnya konsentrasi dalam menjalankan sebuah KA,yg bisa mengakibatkan kecelakaan.Suasana memang dalam cabin tuh emang panas,banyaknya getaran akibat bekerjanya mesin,getaran tersebut lama kelamaan akan mengakibatkan stess berat.Hal seperti yg sering terjadi,seperti kecelakaan di Gubug,masinis KA Ekonomi sudah lelah menunggu.Akibatnya dia menjalankan KA tanpa isyarat apa2 dari PPKA sta.Gubug.Oleh karena itu kenyamanan dalam kabin loko tuh harus diperhatikan.

Semua berita ini saya dapatkan ketika saya melihat langsung kerja masinis bagaimana,dari berbagai media tentang suka duka seorang masinis dan saya Tanya langsung kepada masinis.Oleh karena itu,masinis pekerjaannya jangan dianggap enteng,dia hanya bawa ribuan nyawa hanya dengan tangan kirinya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.